BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Senin , 20 November 2017

Pendidikan Itu Menyederhanakan

Ilustrasi anak bertanya kepada ayahnya. (Foto: Google)
Ilustrasi anak bertanya kepada ayahnya. (Foto: Google)

AntiLiberalNews – Saya pernah membaca sebuah pernyataan, ”Orang yang belum bisa menyederhanakan suatu penjelasan sebenarnya ia tidak menguasai masalah.” Oleh karena itu, apabila ada seorang mengaku pakar namun saat menjelaskan sesuatu “mbulet” dan susah dipahami berarti ia belum pakar (ahli) yang sesungguhnya. Ia pakar dalam hal lain, pandai kelakar.

Kejahatan sex terhadap anak semakin meningkat. Sehingga memunculkan polemik ‘apakah perlu pendidikan sex untuk anak-anak?’ Setiap kubu yang berseberangan pasti punya alasan. Saya sendiri termasuk yang netral.

Namun, kepada anak, saya hanya menjelaskan hal-hal penting yang perlu diketahui anak tentang hal tersebut. Khususnya yang berhubungan dengan peristiwa dan hal-hal penting saat anak sudah mulai akil baligh.

Dikisahkan, seorang ayah yang menjadi penggerak pentingnya pendidikan sex usia dini pada suatu hari ditanya oleh anaknya. “Ayah sebenarnya saya asalnya dari mana, sih?” Sang ayah menjelaskan, “Kamu itu berasalah dari saat bapak dan mama tidur bersama. Kemudian bapak dan mama melakukan sesuatu. Jutaan sperma dari bapak bersaing untuk membuahi sel telur ibu.”

Sang anak bengong mendengar penjelasan dari bapaknya. Lelaki itu terus menjelaskan, “Dari jutaan sperma itu hanya satu yang menang. Setelah itu terjadi pembuahan yang kemudian menempel di rahim ibu yang terus membesar. Selama 9 bulan lebih makhluk itu berada di dalam rahim ibu. Dan akhirnya ia lahir ke dunia. Itulah kamu anakku. Kamu hebat, sejak di kandungan kamu sudah menang bersaing dengan jutaan sperma. Itulah asal muasal kamu anakku.”

Sang anak kemudian berkomentar, “Tapi kata pakde dan bude saya asalnya bukan dari sana ayah.” Sang ayah terkejut karena anaknya meragukan bahwa dia bukanlah ayahnya. Dengan sedikit ragu ia bertanya, “Kalau kata pakde dan bude kamu asalnya dari mana?”

Anak yang masih kecil itu kemudian menjawab, “Kalau kata pakde, saya asalnya dari Surabaya tetapi kalau kata bude asal saya dari Bandung, yang benar mana ayah?”

Salam SuksesMulia!

Red : Raihanah

Sumber : Jamil Azzaini