BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Kamis , 19 Oktober 2017

Bu Guru Bahasa Inggris Ini Dilatih Hamas Menjadi Sniper di Suriah

Syria, Aleppo: Frontline in Salah Addeen on January 30, 2012. ALESSIO ROMENZI 'Guevara ' trained as a sniper in Aleppo after her two children were killed in a air strike
Syria, Aleppo: Frontline in Salah Addeen on January 30, 2012. ALESSIO ROMENZI
‘Guevara ‘ trained as a sniper in Aleppo after her two children were killed in a air strike

AntiLiberalNews – Kehilangan kedua anaknya (7 dan 10 tahun), Givara (40), seorang ibu guru bahasa Inggris warga Suriah, memilih untuk memperjuangkan hak dan martabat bangsanya dari tirani yang kufur kepada Allah.

Givara atau Guevara hanyalah seorang wanita biasa yang mencintai suami dan anak-anaknya. Ia mendedikasikan diri di sekolah mengajar dengan penuh antusias.

Namun jiwa pejuang itu memang telah ada sejak ia belum menikah. Ia dan teman-temannya di universitas tergolong vokal mengkritisi kebijakan-kebijakan dinasti Assad yang tidak berpihak kepada rakyat Suriah. Mereka berjuang melalui tulisan dengan cara menyadarkan masyarakat melalui “koran bawah-tanah” di Universitas Aleppo.

Keluarga Assad juga memposisikan diri mereka seperti berhala yang haus penyembahan dari semua lapisan masyarakat. Foto-foto Assad wajib dipampang di semua perkantoran, di papan besar jalan-jalan, bahkan disembah juga diciumi seolah dia adalah tuhan.

assad kafir

Merespon kondisi yang sudah tidak masuk logika dan nalar iman itu, Givara memilih bangkit dan melawan. Hingga puncaknya saat ia kehilangan putrinya (10) dan putranya (7) di tahun 2012 dalam sebuah serangan udara oleh rezim Nushairiyah, ia memutuskan menjadi sniper untuk menghentikan kebiadaban rezim. Ia pun tidak ingin ada ibu-ibu lain yang harus kehilangan putra-putrinya.

“Menjadi sniper membutuhkan kesabaran, kecepatan dan kecerdasan. Kadang saya harus duduk berjaga berjam-jam menunggu warga sipil keluar dari lokasi dan para tentara pemerintah yang dzalim tiba,” ujar Givara.

Ia mengamati perilaku para tentara dan warga sipil sehari-hari dari titik tembaknya. Ia tidak akan menembak hingga di jalanan hanya tersisa tenntara Assad saja.

Setiap ia berhasil menembak musuh, Givara merasa lega. Setidaknya satu penjahat berkurang dari dunia ini.

Berasal dari Palestina, sniper wanita ini pernah mengaku kepada Telegraph bahwa ia berlatih untuk menggunakan senjata itu di kamp pelatihan Pejuang Pembebasan Palestina Hamas di Libanon.

Kini bersama suaminya -dari pernikahannya yang kedua- yang merupakan pemimpin salah satu Katibah, keduanya berjuang mepertahankan kedaulatan rakyat dan Allah di Suriah. Pasangan ini telah menyaksikan ratusan mayat berserakan setiap waktu dalam penjajahan negara atas rakyatnya itu. Givara sendiri pernah mengalami luka akibat ledakan bom yang meledak dekat mobil yang dikendarainya. Alhamdulillah, Allah Ta’ala masih menjaganya.

Namun, sebagai seorang ibu, di balik ketegarannya ia kadang masih terbangun di malam hari berlinang air mata. Ia masih terkenang akan kepolosan dan kelucuan kedua anak-anak yang mendahuluinya ke surga. Semoga Allah Ta’ala mempertemukan mereka kembali sekeluarga.

Sumber: AP, Daily Mail, Telegraph
Red: Adiba Hasan