BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Minggu , 24 September 2017

Soal Tudingan “SARA” Kepada Muslim yang Berpolitik, Ini Bantahan dari Wasekjen MUI

KH-Tengku-Zulkarnaen-MUIAntiLiberalNews | Suara-Islam – Wasekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH Tengku Zulkarnaen, memberikan pandangannya terkait masalah Islam dan politik, terutama dalam konteks menyambut Pilkada 2017 mendatang.

Berikut adalah kutipan wawancara KH Tengku bersama Suara-Islam pada Selasa (13/9) :

Suara Islam (SI): Selama ini para ulama di Jakarta sedang berusaha memperjuangkan Gubernur Muslim untuk jadi pemimpin DKI periode berikutnya. Bagaimana pandangan anda soal ini?
 
KH Tengku Zulkarnaen (TZ): Ulama dan warga Muslim Jakarta yang berusaha ingin Gubernurnya Muslim itu adalah hak demokrasi, dijamin oleh UUD 1945. Dalam UUD pasal 28 E, negara menjamin tiap-tiap warganya untuk memeluk agama dan menjalankan ajaran agamanya masing-masing. Jadi ini kemerdekaan mengeluarkan pendapat dan haknya. Dan memilih pemimpin Muslim juga merupakan kewajiban dalam Al-Quran. Memilih pemimpin Islam bagi kaum Muslimin itu dijamin oleh negara karena itu ajaran Islam perintah Allah, perintah Al-Quran dan perintah Hadits.
 
Perintah puasa itu hanya satu ayat di Al-Quran, dan semua taat dalam berpuasa. Tetapi memilih pemimpin itu ada puluhan ayat, wajib orang Islam yang memimpin kaum Muslimin. Jadi kalau kita mau taat agama kok dibilang ‘rasis’, dibilang ‘SARA’, justru itu telah dijamin oleh negara pasal 28 E itu.
 
Kalau kita bawa agama dibilang ‘SARA’, berarti orang di Bali SARA dong? Kenapa sejak dahulu Gubernurnya orang Hindu? Kenapa di Papua sejak dahulu juga selalu Gubernurnya orang Kristen? Kan kita tidak pernah protes, karena itu dijamin oleh UUD 1945.
 
SI: Ahok, dengan arogansinya, mau maju lagi dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 dan sudah didukung beberapa partai seperti Nasdem, Hanura dan Golkar. Ini sangat aneh dan Paradoks. Pemimpin seperti Ahok yang bisa memicu kerusuhan rasial dan agama, kok malah di dukung oleh Parpol. Apa yang sebenarnya terjadi pada perpolitikan di negeri kita ini?
 
TZ: Itu hak dia, kalau ada Muslim mendukung Ahok secara bernegara itu hak dia. Tetapi kalau secara Islam dia termasuk golongan munafik, masa ada orang Islam tidak suka pemimpin Islam, kan aneh. Terus dia menganggap Ahok bagus, masa 12 juta orang Jakarta tidak ada orang Islam yang bagus, dimana sih akalnya itu?
 
SI: Ada yang berpendapat ‘kalau politik jangan bawa-bawa agama’. Tetapi kalangan non Muslim sendiri malah sering memanfaatkan simbol agama dalam politik mereka, seperti fenomena Ketua Partai Perindo yang non Muslim tetapi dalam kegiatannya masuk-masuk Masjid dan pesantren. Bagaimana menurut Anda?
 
TZ: Itulah liciknya mereka, bilangnya ‘kalau mau politik jangan bawa-bawa agama’, giliran kita mau memilih pemimpin Muslim dibilang ‘SARA’, giliran dia mau jadi pemimpin masuk-masuk Masjid dan pesantren, itukan SARA namanya. Orang dia bukan Muslim tapi masuk-masuk Masjid. Jadi giliran dia boleh, nggak SARA. Tapi giliran kita tidak boleh, dianggap ‘SARA’. Ini plintat plintut namanya dan memalukan jadinya.

SI: Jadi melihat situasi sekarang yang semrawut ini, menurut anda apa solusinya?
 
TZ: Ganti Presidennya, dan umat Islam bersatu jangan kembali pilih Presiden lemah. Kita bisa hancur segala lini kalau seperti ini, contohnya barang-barang yang dijanjikan turun tetapi nyatanya tidak bisa, seperti harga daging harus turun ternyata tidak turun. Jadi umat harus tahu, kalau tidak mau sengsara lagi jangan sampai terulang lagi salah memilih Pemimpin.
 
Ke depan, kita perlu Pemimpin yang kuat yang mengerti keadaan rakyatnya, sebab menukar keadaan sekarang ini yang penuh dengan kezholiman diperlukan Pemimpin yang kuat, pemikirannya luas, beriman dan pribumi tentunya. UUD 1945 kalimat ‘warga Indonesia asli yang jadi Presiden’ harus dikembalikan, karena orang asli yang lebih memikirkan bangsanya. Seperti Apartheid di Afrika, pemimpin dari orang kulit putih diganti sama penduduk asli orang negro berkulit hitam seperti Nelson Mandela yang ternyata membawa perubahan lebih baik, karena orang asli lebih memikirkan bangsanya, kalau orang luar maunya ngeruk kekayaannya saja.

Jadi sekali lagi saya tegaskan, saya tidak SARA, saya tidak benci orang Cina karena saya sendiri orang Cina. Saya benci keserakahan, ketidakadilan, menindas orang, monopoli dan sejenisnya.
 
Dan kekuatan persatuan umat Islam itu basisnya di Masjid, ormas Islam, pesantren atau madrasah. Pemahaman tentang politik Islam juga harus ditingkatkan, selama ini kita keliru ‘Masjid tidak boleh bicara politik’, padahal boleh. Di Masjid harus bicara politik Islam, umat Islam harus pilih pemimpin Muslim. Itu sebenarnya ajaran Al-Quran, perintah Allah, cuma orang sekarang saja bilangnya ‘soal politik’.

Sumber : Suara-Islam

Red : Wijati