BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Sabtu , 21 Januari 2017

Minta Dilindungi Saat Liput Aksi Bela Islam, Media Sekuler Malah Kembali Nantang Umat Islam

metro-tivu-fitnahAntiLiberalNews – Dalam kesempatan dialog antara pihak GNPF MUI dengan Polri di Gedung MUI, Jakarta, pada Senin (29/11) lalu, wartawan media yang mengaku mewakili rekan-rekannya yang bekerja di media-media liberal-sekuler Kompas TV, Metro TV, dan Berita Satu, meminta perlindungan polisi saat meliput Aksi Bela Islam III pada 2 Desember nanti.

Karena menurut dia, para rekan wartawan yang bekerja di tiga media televisi sarat propaganda, tendensi dan pengaburan informasi itu kerap merasa terancam saat meliput.

Padahal itu adalah akibat ulah mereka sendiri. Contohnya adalah saat meliput Aksi Bela Islam I pada 14 Oktober lalu di mana mereka merekayasa berita “taman rusak” dan menjadikan umat Islam sebagai kambing hitam, namun menerapkan standar ganda dalam peristiwa serupa yang melibatkan pihak lain yang tidak berseberangan dengan mereka. Belum lagi soal kepicikan mereka yang kerap mengecilkan jumlah peserta aksi umat Islam atau memberi penyesatan informasi bahwa aksi yang aslinya diikuti berbagai elemen tapi oleh mereka diklaim hanya diikuti satu-dua kelompok saja.

Namun, belum selesai masalah ini, mereka malah kembali mencari gara-gara dengan umat Islam dengan kembali membuat berita tendensius yang memojokkan umat Islam seperti biasa.

Merdeka misalnya, membuat berita dengan judul “Diduga buat aksi 2-12 di Jakarta, 1000 ketapel disita di Surabaya”.

Sedangkan Kompas memberi judul dengan kalimat “Amankan 1.000 Ketapel, Polisi Curiga Terkait Aksi 2 Desember”

Dan yang kalimatnya paling busuk dan tendensius adalah Metro TV, yang tak segan-segan menulis “1.000 Ketapel untuk ‘Menyerang’ Jakarta Disita”.

Ternyata, pokok permasalahannya sangat jauh dibanding dengan judul yang provokatif itu, sehingga dengan jelas menggambarkan tendensi para cecunguk itu.

Pada intinya, ketapel-ketapel itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan Aksi Bela Islam III 2 Desember mendatang di Jakarta, melainkan hanya sebuah pesanan biasa ke daerah yang sangat jauh dari Ibu Kota yaitu di Maros, Sulawesi Selatan. Pembeli yang tak lain adalah saudara dari sang penjual memesan 1.000 buah ketapel untuk dijual lagi disana.

Permasalahan muncul ketika polisi brengsek langsung suudzon dan tanpa bukti kongkrit menuduh bahwa barang-barang itu hendak dikirim ke Jakarta untuk keperluan aksi, hanya mentang-mentang jumlahnya besar dan pembeli meminta pesanan diselesaikan hanya dalam waktu 3 hari. Sekali lagi, itu hanya sebatas dugaan.

Hanya bermodalkan pemikiran suudzon polisi brengsek semata, para media cecunguk itu pun lantas menjadikannya sebagai senjata untuk menyerang umat Islam dengan cara menempatkannya di bagian judul dan paragraf awal berita. Sementara inti permasalahan di mana ketapel-ketapel itu hendak dikirim ke Maros, Sulawesi Selatan hanya untuk dijual lagi, berikut kalimat kutipan klarifikasi langsung dari pihak penjual, justru ditaruh di bagian bawah berita.

Screenshot dari Merdeka :

merdeka-fitnah-full

Screenshot dari Kompas :

kompas-fitnah-full

Screenshot dari Metro TV :

metro-tivu-fitnah-full

Secara psikologis, judul berita dan paragraf awal akan sangat berpengaruh dalam memberi pembaca gambaran pada inti permasalahan dan tentunya itu bisa dimanfaatkan menjadi salah satu bentuk penggiringan opini yang licik. Dengan menempatkan pokok permasalahan sebenarnya di bagian bawah berita, itu menjadikannya rendah dalam hal prioritas pemberitaan sehingga pembaca pun akan lebih menangkap apa yang tertulis di judul dan paragraf awal karena mindset mereka sudah terlanjur dikondisikan di sana. Tidak sedikit pembaca yang malas membaca isi berita keseluruhan dengan alasan “terlalu panjang” dan mereka merasa sudah mengetahui permasalahan secara keseluruhan hanya dengan membaca judul dan paragraf awal saja atau bahkan cukup judul saja. Disitu lah mereka terjebak propaganda busuk dari pembuat berita.

Bandingkan dengan pemberitaan oleh Detik (yang padahal sama-sama media sekuler-liberal), di mana mereka memberi judul “1.000 Katapel Akan Dikirim ke Maros Diamankan Polisi di Surabaya” dan menempatkan inti permasalahannya pada paragraf awal.

detik-berita-ketapel-fullDengan demikian, upaya meminta perlindungan itu terindikasi hanya merupakan siasat agar mereka makin bebas seenak udelnya menyerang umat Islam. Wallahu ‘Alam bis Showwab.

Red : Wijati

Check Also

LBH Street Lawyer Bantu Pembawa Merah Putih Bertauhid yang Ditangkap

AntiLiberalNews – LBH Street Lawyer berikan bantuan hukum untuk Nurul Fahmi, peserta aksi 212 yang ...

Keluhkan Intoleransi, Jokowi Diminta Tinjau Ulang UU Penistaan Agama

AntiLiberalNews – Sejumlah antropolog menemui Presiden Joko Widodo menyampaikan petisi mengenai intoleransi. Para antropolog juga ...