BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Sabtu , 25 Februari 2017

Pemblokiran Situs yang Dianggap “Radikal” Ternyata Hanya Sebatas yang Bernuansa Islam

pemblokiran-media-islamOleh : Mustofa B. Nahrawardaya*

AntiLiberalNews | Islam Pos – Tidak sulit mengenali sebuah media itu, sebagai media “radikal” atau bukan. Persoalannya, “radikal” bagi siapa? Kalau “radikal” bagi pembaca, maka akan muncul ribuan tafsir. Setiap pembaca memiliki tafsir sendiri tentang “radikalisme”. Maka, harus ada penjelasan khusus, atau harus ada definisi yang jelas terlebih dahulu tentang “radikalisme”.

Sebuah portal, website, barangkali tidak perlu diblokir hanya gara-gara dilabeli sebagai “situs radikal” jika ukurannya adalah pembaca. Lebih baik, mekanismenya saja yang diatur. Bahwa setiap media atau situs harus memproteksi diri dengan password dan aturan main.

Sebagai contoh, yang tidak mendaftar sebagai member pembaca, tidak bisa membuka situsnya. Nah, aturan jadi member itulah yang bisa diperketat. Bagi yang non member, tidak bisa akses. Hal ini sudah dilakukan oleh situs-situs mainstream terkait cara buka berita yang bermuatan dewasa atau mengandung unsur kekerasan.

Soal ada member yang memalsu data agar bisa masuk sebagai member, itu soal lain. Langkah ini sebagai solusi atas perkembangan media informasi yang semakin modern.

Memblokir situs tertentu, apalagi dengan cara otoriter berdasar laporan pembaca tanpa klarifikasi ke pengelola, jelas sebuah langkah mundur. Bisa dibilang, ini langkah yang dilandasi oleh sistem pemalas.

Penentuan atau labeling situs-situs “radikal”, cenderung tendensius. Sesuai kepentingan yang mengeluarkan label. Yang dilabel adalah situs yang “tidak menguntungkan” dan yang “merugikan” pembuat label. Cara ini sangat rawan disalahgunakan, apalagi jika alasannya demi “kepentingan nasional”. Situs “radikal”, ternyata HANYA sebatas yang bernuansakan Islam. Kemudian, tidak mempertimbangkan efek lain misalnya dampak. Situs yang pernah diblokir, dianggap “100% bermasalah”.

Padahal, banyak situs, hanya bermasalah dengan satu dua judul, atau hanya karena ada komentar miring pembaca di kolom komentar atas berita itu, lalu sebuah situs ditutup aksesnya. Ini konyol. Lebih parah lagi, sebuah situs yang biasanya memberitakan kasus penyalahgunaan wewenang oknum aparat, atau yang biasa memberitakan pelanggaran HAM oknum aparat, lalu diblokir dengan alasan “radikalisme”.

Silahkan masyarakat membuat daftar situs-situs yang dianggap “radikal”, tapi bukan berarti, langkah itu dilakukan hanya demi menyelamatkan kepentingan sesaat. Jangan kemudian, hasil dari penutupan situs, ternyata memyebabkan masyarakat jadi buta informasi cover both side. Masyarakat perlu berita berimbang. Bukan berita hasil sumbangan. Bukan berita hasil fakta rekaan. Berita itu seharusnya murni fakta. Dan, media kemudian menangkap fakta untuk disampaikan kepada pembacanya.

Bayangkan jika sebuah peristiwa adalah fakta rekaan, lalu ditelan mentah-mentah pembaca, jelas ini akan menyesatkan. Maka, media atau situs Islam seharusnya menjadi pelopor penyampai kebenaran sebuah fakta. Bukan penyampai fakta saja. Karena fakta ternyata bisa dibuat.

Dalam banyak list label situs media “radikal”, selalu tidak kredibel. Banyak situs bermanfaat bagi umat, akhirnya dilabel sebagai situs “radikal”, mungkin agar sekarat. Banyak situs penebar kebaikan, distempel sebagai situs “radikal”, mungkin biar terkesan jadi situs “penebar kebencian”. Yang lebih repot lagi, situs-situs yang digandrungi umat, tiba-tiba dianggap “radikal”. Mungkin agar menjadi “tidak bermartabat”. Apakah ini masih akan berlanjut? Jika iya, saya pesimis bangsa ini akan menjadi sehat.

*Penulis adalah Koordinator Indonesian Crime Analyst Forum (ICAF)

Sumber : Islam Pos

Red : Wijati