BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Kamis , 19 Oktober 2017

Rahmah El Yunussiyah, ‘Kartini’ Yang Terlupakan

AntiLiberalNews – Jika ditanya siapa pelopor pendidikan perempuan di Indonesia, orang-orang akan banyak menjawab ia adalah R.A Kartini. Namun, tahukah Anda bahwa ada sosok perempuan yang juga menjadi pelopor pendidikan perempuan di Indonesia khususnya tanah Minang? Pada usianya yang masih muda, saat 23 tahun ia telah mendirikan sekolah khusus untuk perempuan pada tahun 1923. Ia adalah Rahmah El Yunussiyah.

Diniyyah School Putri merupakan sebuah langkah maju dalam pendidikan Muslimah di Indonesia bahkan di dunia. Karena sekolah yang digagas oleh Rahmah El Yunusiyah ini tidak hanya memberikan pelajaran agama maupun umum, tetapi juga mengajarkan berbagai keterampilan yang diperlukan oleh seorang Muslimah sebagai ibu yang mandiri.

Maka ketika Rektor Universitas Al-Azhar Abdurrahman Taj berkunjung ke Diniyyah Putri pada 1955, beliau tertarik dengan sistem pembelajaran khusus yang diterapkan disana dan menginspirasinya untuk mendirikan Kuliyyatul-Lil-Banat (kampus Al-Azhar khusus putri) di Universitas Al-Azhar. Dan Rahmah pun dinobatkan sebagai Syaikhah (Guru Besar Wanita) pertama dari Universitas Al-Azhar.

Berdasarkan perjalanan hidupnya dalam mencari ilmu dan berguru kepada tokoh-tokoh ulama besar, maka timbullah sebuah keinginan kuat dari Rahmah agar mencerdaskan kaum perempuan. Rahmah merasa kaum Muslimah saat itu belum mendapatkan apa yang seharusnya menjadi hak mereka. Dalam sebuah catatan hariannya, Rahmah pernah menuliskan:

“Ya Allah Ya Rabbi, bila ada dalam ilmu-Mu apa yang menjadi cita–citaku ini untuk mencerdaskan anak bangsaku terutama anak-anak perempuan yang masih jauh tercecer dalam bidang pendidikan dan pengetahuan, ada baiknya Engkau ridhai, maka mudahkanlah Ya Allah jalan menuju cita–citaku itu. Ya Allah, berikanlah yang terbaik untuk hamba-Mu yang lemah ini. Amin.”

Berbeda dengan perjuangan Kartini yang mengusung agar kaum wanita mendapatkan hak sama dengan kaum lelaki, terutama dalam bidang pendidikan. Di Ranah Minang, justru hal itu bukanlah menjadi sebuah masalah, karena madrasah dan sekolah yang sudah ada saat itu memperbolehkan siapapun untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar tanpa memandang perbedaan gender.

Meskipun hingga saat ini masih ada masyarakat awam yang beranggapan bahwa pendidikan bagi perempuan tidaklah penting. Dan orang tua seharusnya sangat mendorong anak-anak untuk berpendidikan.

Sumber : Dakwatuna

Red : Wijati