BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Jumat , 15 Desember 2017

[#StandarGanda] Mendadak Berkoar ‘Anti-Persekusi’, Kemana Saja Kalian Saat Persekusi Menimpa Umat Islam!?

AntiLiberalNews – Kata “persekusi” kini mulai banyak lalu-lalang di berbagai media, baik media cetak, media daring, maupun media sosial. Apa sebenarnya persekusi itu?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia daring, persekusi adalah sebuah kata kerja yang berarti “pemburuan sewenang-wenang terhadap seseorang atau sejumlah warga dan disakiti, dipersusah, atau ditumpas”.

Sebuah media menulis bahwa telah terjadi 47 kasus persekusi daring selama 2017 :

Kasus penodaan agama dengan terdakwa Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama menjadi pintu gerbang untuk kasus-kasus persekusi daring. Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFENET) mencatat telah terjadi 47 persekusi terhadap akun-akun media sosial yang dituding menghina agama atau ulama di media sosial.

Kasus-kasus ini sudah menyebarluas secara merata di seluruh Indonesia dan menarget orang-orang dari berbagai latar belakang. Salah satu yang ramai dibicarakan adalah seorang dokter bernama Fiera Lovita di Solok, Sumatera Barat.

“Ada instruksi massa untuk memburu target yang sudah dibuka identitas, foto, serta alamat kantor atau rumah,” kata Koordinator Regional Indonesia SAFENET Damar Juniarto saat dihubungi Rappler pada Ahad, 28 Mei 2017. Setelahnya, orang-orang akan mendatangi -atau lazim disebut menggeruduk -alamat yang tertera untuk dibawa ke polisi.

(Berita selengkapnya: www.rappler.com/indonesia/berita/171217-kasus-persekusi-daring)

Kasus “persekusi” terbaru yang menggegerkan media sosial adalah kasus yang berawal dari penghinaan terhadap Imam Besar FPI Habib Rizieq Syihab, yang dilakukan seorang remaja berusia 15 tahun dari Cipinang Jakarta Timur.


Berikut kronologinya :

– Tanggal 20 Mei 2017, M mengaku mengunggah posting-an yang menghina sebuah ormas dan pemimpinnya. Salah seorang netizen sudah memperingatkan baik-baik agar posting-an tersebut dihapus. Alih-alih menghapus, M malah balik menantang dan memberikan nama dan alamat rumahnya.

– Tanggal 26 Mei 2017, posting-an M menjadi viral.

– Tanggal 29 Mei 2017, M dibawa oleh sekelompok orang yang diduga anggota sebuah ormas ke pos RW. Di dalam ruangan tersebut, M diminta mempertanggungjawabkan pernyataannya.

– Tanggal 1 Juni 2017, polisi mengevakuasi M dan keluarganya dengan alasan “M dan keluarganya telah mendapat intimidasi” dari pihak ormas tersebut.

– Selang beberapa jam kemudian, kedua pemuda yang dituding menjadi “pelaku persekusi” yang masing-masing berinisial M dan U warga Cipinang Muara, Jakarta Timur itu dijemput oleh polisi, setelah orangtua M membuat laporan ke pihak kepolisian.

Sumber: http://megapolitan.kompas.com/read/2017/06/02/05201361/gerak.cepat.polisi.tangani.persekusi.terhadap.seorang.remaja.di.cipinang

Kasus “persekusi” ini kemudian memicu pro dan kontra. Pasalnya, secara kasat mata, pada beberapa serangan yang ditujukan kepada umat dan tokoh-tokoh Islam, aparat terkesan melakukan pembiaran.

Serangan itu bahkan tak hanya terhadap kelompok Islam dan para ulamanya, namun bahkan terhadap TNI dan aparat penegak hukum semacam KPK juga.

Sebut saja kasus persekusi yang dialami oleh Fahri Hamzah di bandara Sam Ratulangi Manado, KH Shobri Lubis di bandara Supadio Pontianak, KH Tengku Zulkarnaen di bandara Sintang, atau serangan berupa penyiraman air keras yang dialami penyidik senior KPK yang hingga hari ini tak berhasil menyeret satupun nama sebagai terduga pelaku.

Atau ancaman pembunuhan beberapa tokoh Islam yang dilakukan oleh seorang warga Surabaya yang ketika berusaha diproses secara hukum, berkas laporannya bahkan hilang di tangan pihak kepolisian.

Polisi terkesan lamban dan malas menanggapi laporan umat terkait serangan-serangan tersebut.

Sebaliknya, jika pelakunya umat Islam, polisi begitu sigap dan cekatan. Bahkan bila perlu, ciduk dulu, barang bukti menyusul.

Dalam status-nya, seorang netizen menegaskan bahwa jika saja aparat keamanan bersikap tegas dan adil dalam menyelesaikan berbagai kasus hukum yang dilaporkan masyarakat, tentu tak ada satupun warga yang ingin menyelesaikan perselisihan melalui persekusi :

Seandainya jwbnya semua: Ditemukan dan Diproses..
Adakah yg. mau turun tangan sendiri..?
Jgn. ribut asap, lupa api..pic.twitter.com/rR6kCsYshb
— (@MbahUyok) June 1, 2017

Sebagaimana dikutip Portal-Islam, berikut adalah sejumlah tanggapan kritis netizen mengenai “persekusi” :

Sebelum lanjut koor-nya “mewek”2 persekusi..
Berhenti bentar, Plak..
Coba mikiiiir.. Buka mata.. Jangan micek..!!!https://t.co/wpDYP6RRVr
— (@MbahUyok) June 2, 2017

Mendadak anti persekusi sejak ada anak kecil cina yg dikeplak ame orang2. Kemane aje loe pade saat terjadi persekusi thd Fahri Hamzah?
— Kak DuL (@dulatips) June 2, 2017

Sebelum ngomong anti persekusi baiknya terlapor spt si Nathan , si Steven diproses dulu ,
Jgn minta rakyat lapor tp laporannya gk digubris
— Negri Seterah (@RestySeterah) June 2, 2017

Kesannya, kayak pada amnesia ada UU ITE setelah muncul istilah perkursi.. Eh persekusi.
— MUSTOFA NAHRAWARDAYA (@NetizenTofa) June 2, 2017

Ansor @ansor_satu @ansor_jatim tidak usah sok suci. Selain gemar goyang erotis kalian juga sering melakukan persekusi kok.#AdaYakult pic.twitter.com/pFG7PRk1jH
— SiBonekaKayu (@SiBonekaKayu) June 2, 2017

“Lawan persekusi!” Jerit orang2 yg hampir tiap hari melakukannya di akun-akun sosmednya. #krik
— Reiza Patters (@Reiza_Patters) June 1, 2017

Cak Imin : Ormas melakukan Sweeping Karena Polisi Lamban Dalam Bertugas https://t.co/9CntQfGt6A pic.twitter.com/Yk5GnijgQr
— sketsanewscom (@sketsanewscom) June 1, 2017

Teriak-teriak toleransi,
Tapi diam saat agama & ulama dicaci-maki
Jerit-jerit persekusi,
Jadi diam saat mandeknya laporan polisi#Nalar
— #KataNalar (@ZAEffendy) June 1, 2017

Persekusi yang dilakukan oleh warga dan ormas = HARAM
Persekusi dan eksekusi yang dilakukan oleh aparat = HALAL
semoga dapat dipahami.
— Warta🌐Politik™ (@wartapolitik) June 2, 2017

Laah itu dia sendiri yg nantangin koq, ngasih alamat pula.. Giliran disamperin, FPI lg yg disalahin 😂😂 https://t.co/1pfEgAWm8V
— ………… (@tra_anyunt) June 2, 2017

Jawabannya adalah KAPASITAS NEGARA UNTUK MENEGAKKAN HUKUM DAN KEADILAN YANG HARUS DITINGKATKAN..BUKAN MERAMPAS KEBEBASAN…
— FAHRI HAMZAH (@Fahrihamzah) June 1, 2017

…Tidak hanya mengatai bajingan tapi sampai menantang untuk disamperin, tak menutup kemungkinan nantang u/ dipersekusi juga. (“,) https://t.co/0kVPtbvXPA
— Buruh, Bersatulah..! (@iyutVB) June 2, 2017

Red : Wijati