BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Jumat , 15 Desember 2017

Cantik, Sehat dan Bahagia dengan Bersyukur

Oleh :  Tauhid Nur Azhar

AntiLiberalNews – Ada kisah tentang sebuah huruf hijaiyah berbentuk bulat dengan dua titik di atasnya. Huruf ini biasanya terletak di penghujung sebuah kata. ‘Ta marbuthah’ namanya. Kita lazim melapalkannya sebagai ‘ha’. Namun, tahukah Anda bahwa dalam kesusastraan Arab, huruf ini menjadi pembeda sifat sebuah kata. Apabila huruf ini muncul, kata terkait mendapat sifat mu’annats atau berkonotasi feminin atau kebundaan.

Kesastraan Arab dengan anggun memuliakan perempuan dengan memberikan tempat sangat istimewa pada tatanan bahasa. Itulah mengapa, kita pun mengenal kata hiya, hunna, anti, antunna, serta antuma jika saya disapa bersama istri tercinta, al-Jamila Haniya. Maka, lihatlah kata-kata yang memberikan tempat pada ‘ta marbuthah’, misal Makkah, Madinah, madrasah, ’amanah, sakinah, semua seolah dikorelasikan secara konotatif-denotatif dengan kebundaan dan kemuliaan seorang perempuan yang lembut tetapi mencerdaskan.

Maka, berangkat dari sebuah huruf hijaiyah, pada bagian ini izinkan saya sedikit berkisah tentang perempuan, cinta, dan bahagia serta konstruksi untuk membangunnya. Kelembutan, empati, dan kekuatan yang tidak terpatahkan dari seorang ibu, istri, pemikir sejati, dan pahlawan yang berjuang dengan energi hati bersumber dari era embriologi, ketika miliaran gena dengan alel-alelnya dengan cerdas mengorganisasikan dirinya dalam panduan rima-rima epigenetika.

Zat Yang Maha Kuasa telah menjadikan tiap ayunan tongkat batonnya sebagai pembuka kunci desauan kimiawi berwujud cairan yang dibangun dari gugus peptida dan juga sebagian steroida. Hormon namanya. Baton dirigen kehidupan juga bak tongkat sihir Dumbledor yang teracung dan

beterbanganlah gugus-gugus amina dan karboksil memainkan kunci kunci katalisa yang harmonis. Biokimia mengenalnya sebagai reaksi enzimatis.

Maka, perempuan terlahir dengan rahim yang hanya mau berkelindan dengan choir yang hanya menyenandungkan sonata cinta. Oksitoksin, estrogen, progesteron, dan ketika maestro janin ada bersamanya diproduksilah human chorionic gonadotropin. Janin mungil akan tumbuh, berjambul dan gembul, lalu kita beri nama padanya, Ipin dan Upin.

Perempuan ini pula yang kemudian menjadi sangat spesial isi otaknya, amigdala kirinya menjadi pusat kendali yang detail dan sangat presisi amatannya, terlebih bila ada ancaman yang mengintai apa pun yang menjadi amanah bagi dirinya. Perempuan pada akhirnya amat melindungi buah hati dan juga belahan hatinya. Lihatlah sosok Rufaidah binti Sa’ad yang berjuang tidak kenal lelah untuk merawat para mujahid yang terluka, para anak, dan balita yang terbaring sakit tidak berdaya. Lihatlah Rufaidah-Rufaidah muda yang kini dengan gigihnya berjuang sekuat tenaga dan seolah tidak pernah kekurangan daya untuk merawat penderita yang tengah tergolek tidak kuasa menahan penyakit yang menggerogoti dirinya.

Maka, mengenal perempuan dan juga manusia pada umumnya adalah salah satu pilar utama konstruksi kebahagiaan. Dalam hipotesis saya terbagi ke dalam empat divisi pokok yang terdiri dari: infrastruktur bahagia, definisi bahagia, konstruksi bahagia, dan hakikat atau ontologi
bahagia.

Bukankah goda adalah bahagia, bukankah sesal adalah bahagia, bukankah ampunan adalah bahagia, bukankah air mata adalah bahagia, bukankah tawa adalah bahagia, bukankah lelah adalah bahagia, bukankah cucuran peluh adalah bahagia, bahkan bukankah kehilangan pun

sesungguhnya adalah bahagia? Tinggal bagaimana kita menyikapi, mengonstruksi, dan akhirnya memersepsikan apakah makna dari bahagia itu sendiri. Bukankah bahagia di akhirat memiliki prasyarat harus berbahagia terlebih dulu di dunia? Ingat doa sapu jagat.

Falsifikasi dalam definisilah yang menyeret kita dalam pusaran arus penyesalan dan ketidakbahagiaan. Kita marah kepada Zat Yang Maha Pencipta karena dikarunia lemak yang hanya akan menyebabkan penyakit jantung sebagai awal dari sebuah penderitaan tidak berujung. Padahal, lemak bak harpa pada sebuah orkestra. Ia membawa nada nada surga yang dimainkan para bidadari atau al-Haura. Lemak menjaga suhu tubuh karena kita homoithermal, tidak sesuka hati seperti ikan memainkan thermostat tubuhnya. Hipotalamus di otak kita harus terus menjaga agar suhu tubuh memungkinkan semua reaksi biokimia berjalan sempurna.

Maka Allah, Zat Yang Maha Sempurna, pemberi bentuk yang paripurna, al-Mushawwir, menghadiahi kita dengan lemak penjaga. Diperintahkannya lemak mengatur suhu, menjadi membran sel yang menjamin transportasi semipermiabel dan tempat diekspresikannya reseptor untuk fungsi transmisi dan transkripsi, lipid bilayer namanya. Lalu dari lemak itu pula direncanakan oleh-Nya hormon-hormon steroida yang membuat manusia dapat beradaptasi dengan dunia dan mengenal cinta. Maka, Zat yang Maha Sempurna ini menciptakan pula jalur lemak yang mengalun dan mengundang tari tiap organ yang dilewati. Dari saluran cerna, hati,
pembuluh arteri, dan sel sel yang tidak terhitung jari, menandaklah chilomicron, lipoprotein berdensitas tinggi, sedang, dan rendah menarikan tari kegembiraan karena akan memberi kebermanfaatan.

Maka, meski berkostum trigliserida ataupun LDL, yang kita juluki ia ‘lemak jahat’, tiada jahat ia sesungguhnya. Bukan mereka yang jadi troublemaker, total kolesterol, masalahnya. Akan tetapi kitalah yang merusak irama gendang panduan tari mereka. Kita membuat makrofag tidak berdaya menghantar LDL alih rupa dari HDL pasca berkarya kembali ke hati untuk diolah menjadi garam empedu purwarupa. LDL malang ini kemudian tanpa dikehendakinya menumpuk melebihi ambang saturasi. Ia dicap kriminal dengan tuduhan merusak rasio formal. Ia pun tambah menderita ketika harus didera oleh konsekuensi biokimia dengan teroksidasi karena tidak bisa kembali ke hati. Maka, kita kutuk ia dengan kutukan tujuh turunan, lewat mantra peroksidasi berantai. Jadilah ia penjahat sejati yang diberitakan bak Gayus Tambunan, Nazaruddin, Nunun Nurbaeti, dan kawan-kawannya. LDL, wanted, die or alive!

Inilah Nazaruddin, tubuh yang dianggap mengorupsi asam lemak dinding pembuluh darah, endotel, dan memaksa tubuh mengurangi subsidi darah karena adanya sumbatan birokrasi bernama ateroskeloris, plaque, yang harus dijitak dan dibentak-bentak. PDGF beta dan mac colony stimulating factor tidak pernah merekayasa kasus dengan homosistein yang reaktif, jika kita tidak menginisiasinya. Jantung koroner produk akhirnya.

Itulah sekelumit pelajaran dari kolesterol tentang ontologi bahagia. Salah memahaminya, keliru pula menyikapinya. Mungkin sebenarnya saat ini kita sudah berbahagia, sayangnya dengan sengaja kita memilih untuk tidak MENYADARINYA. Maka, alhamdulillâhi rabbil ‘âlamîn menjadi kuncinya. Bersyukur padanan katanya. Menjadi cantik, sehat, dan bugar sebagai hasil akhirnya.

Red : Maulana Mustofa