BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Kamis , 19 Oktober 2017

Laskar “Radikal” Itu Bekerja Untuk Kemanusiaan

AntiLiberalNews | Kiblat – Bersama lautan manusia yang kembali ke peraduan, matahari pun mulai tenggelam. Gelombang kendaraan para pencari nafkah pun menyebabkan kemacetan di beberapa titik di ibu kota.

Di satu-dua lampu merah, terlihat beberapa penjaja makanan maupun minuman ringan menggunakan keranjang gendong mencari nafkah. Tak sedikit juga, tempat berkumpulnya para pengendara kendaraan bermotor itu jadi lahan memelas beberapa pengemis.

Namun, pertigaan maupun perempatan yang ramai itu tidak menjadi ladang mencari nafkah bagi Ahmad Wahhab, seorang sukarelawan dari Front Pembela Islam (FPI) Pancoran.

Di tempat berhenti sejenaknya para pengguna jalan itu, ia dan beberapa anggota FPI lainnya menggunakannya untuk menggaet donatur kemanusiaan untuk Muslim Rohingya yang saat ini tengah menghadapi cobaan luar biasa. Berbekal kardus berukuran sedang dengan print-print-an berwarna seharga 300’an, Wahhab menjadi perantara hati nurani para pengendara untuk korban kemanusiaan di Myanmar itu.

“Dapat wejangan dari Imam Besar (Habib Rizieq Shihab), kami mencari donasi untuk saudara seiman di Rohingya. Mereka yang tengah dibantai militer (rezim Budha radikal) Myanmar butuh harta tak seberapa dari kita, Muslim Indonesia,” ungkap Wahhab ketika ditanyai mengapa rela berdiri berjam-jam di lampu merah Taman Makam Pahlawan, Kalibata, Jakarta Selatan dalam aksi kemanusiaan itu.

Walau tak seberapa, uang yang didapat dari para pengguna jalan ini ia harapkan tetap bisa membantu para korban kekerasan rezim Budha radikal Myanmar yang tengah menderita di Rakhine sana.

Wahhab dan empat anggota lainnya secara rutin selama empat hari terakhir ini mencari donasi untuk Myanmar di daerah Kalibata, mulai lampu merah Taman Makam Pahlawan, hingga Flyover Kalibata City.

Dari sekian banyak pengguna jalan, tutur komandan sayap juang Laskar Pembela Islam (LPI) tingkat kecamatan itu, yang paling banyak memberi donasi untuk Myanmar adalah para rider ojek online.

“Sudah empat hari ini mencari donasi sekitar Kalibata, dan pernah terkumpul dalam satu hari -dimulai siang sampai sore- sekitar dua juta rupiah,” ungkapnya dengan mata berbinar.

Memang, ketika ditemui, dalam kotak kardus yang baru terisi 1/5 dengan uang, terlihat beberapa lembar uang seratus ribuan.

Lantas, apa keuntungannya bagi Wahhab dan kawan-kawan?

Wahhab mengaku tidak mendapat keuntungan apa-apa selain mengharap berkah dan pahala dari Allah SWT. Karena, tuturnya, FPI bukanlah ladang seseorang mencari materi, namun sebagai amal mencari kehidupan di akhirat kelak.

“Gak dibayar saya melakukan ini mas, murni Lillahi Ta’ala. Ini kerja utama saya, selain saya punya sampingan untuk mencari penghidupan di dunia,” ungkapnya.

Berdasar pantauan Kiblat, penggalangan dana oleh FPI ini tidak hanya di gelar di Jakarta, di daerah lain seperti Bandung, Sragen, bahkan Madura pun mendapat respon yang positif dari masyarakat setempat.

FPI selama ini dikenal oleh beberapa kelompok sebagai organisasi yang secara subyektif mereka cap sebagai “radikalis”. Namun di balik stigma negatif itu, organisasi yang telah berdiri sejak 17 Agustus 1998 ini ternyata telah banyak berkiprah dalam dunia kemanusiaan.

Terbukti beberapa waktu lalu, ketika para korban agresi militer di Gaza Palestina masih terlunta-lunta hidup di tanah airnya, FPI menyalurkan 500 juta Rupiah yang diperuntukkan pembangunan bank darah di sana.

Belum lagi jika menyebut peranan mereka dalam mengevakuasi ratusan ribu korban tsunami di Aceh pada 2004 lalu, begitu pun dalam bencana gempa Sinabung pada 2014 lalu atau banjir bandang di Garut pada awal tahun ini dan masih banyak lagi aksi kemanusiaan lainnya.

Sumber : Kiblat

Red : Wijati