BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Jumat , 15 Desember 2017

Kisah Masuk Islamnya Hana Tajima, Tamparan Bagi Rina Nose yang Mudah Silau Lihat Jepang

AntiLiberalNews – Fenomena Rina Nose tengah mengguncang jagat maya belakangan ini. Apalagi setelah sebuah tulisannya tentang negara Jepang yang ditengarai sebagai awal dari keputusannya untuk meninggalkan jilbab.

“Kemudian saya bertanya, kalau hidupmu sudah sebaik ini tanpa agama, lalu kenapa kamu ingin mencari Tuhan dan ingin memiliki agama?” tulis Rina.

Tulisan Rina bertolak belakang dengan kisah relijius Hana Tajima. Wanita cantik berdarah Jepang ini malah mengatakan jika Islam mempengaruhi kehidupannya.

“Semakin saya baca, semakin banyak saya setuju dengan Al-Quran dan saya bisa melihat mengapa Islam sungguh berpengaruh pada kehidupan teman-teman Muslim saya,” kata Hana sebagaimana dikutip Dream dari Independent.

Hana adalah seorang mualaf. Sebelum sukses sebagai perancang mode, dia mengaku tak pernah bermimpi memeluk Islam.

“Itu benar bahwa saya tidak pernah memutuskan masuk Islam atau ingin menjadi seorang Muslim,” kata Hana.

Dia tumbuh di Davon, kota kecil di tenggara Inggris. Keluarganya tak begitu religius.

“Saya tumbuh di pinggiran Davon, di mana ayah saya orang Jepang, etnik yang berbeda sama sekali dengan kondisi di desa,” tutur dia.

Masuk sekolah tingkat atas, Hana berkawan dengan orang dari berbagai latar belakang. Dia sempat terjerembab ke dalam pergaulan bebas. Teman-temannya penyuka gaya hidup hip-hop underground, menenggak minuman keras, dan kehidupan foya-foya lainnya.

Menginjak kuliah, dia berkawan dengan sejumlah Muslim. Di sinilah dia merasa aneh dan bertanya-tanya mengapa teman-teman Muslimnya itu tidak mau diajak ke klub.

“Saya pikir ini mengejutkan, bagaimana bisa Anda tidak ingin keluar pada masa seperti ini,” ujar Hana.

Sejak itulah dia mulai belajar filosofi, dia mulai bingung dengan kehidupannya saat itu. Kala itu, Hana yang cantik memang menjadi remaja populer. Punya pacar, banyak teman, dan semua yang menyenangkan.

“Tapi saya masih merasa apakah harus seperti itu?” kata dia.

Perasaan aneh itu terus menerus datang, siang dan malam, sehingga dia mencoba banyak membaca buku-buku soal agama. Dia pun banyak mempelajari teman-teman dan latar belakangnya.

“Ada sesuatu yang menarik saya masuk Islam,” tutur Hana.

Dia mulai terkesan dengan Al-Quran. Di sana, dia menemukan banyak isu, mulai dari hak perempuan hingga kehidupan kontemporer diatur dalam kitab kaum Muslimin itu.

“Semakin saya baca, semakin banyak saya setuju dengan Al-Quran dan saya bisa melihat mengapa Islam sungguh berpengaruh pada kehidupan teman-teman muslim saya,” ungkapnya.

Meski demikian, Hana tetap belum masuk Islam.

“Tapi ada suatu titik di mana saya tidak bisa mengatakan bahwa diri saya bukanlah Muslim,” katanya.

Sejak itulah Hana masuk Islam. Saat peristiwa sebelas tahun silam itu, usianya baru tujuh belas.

Sejak itu, dia bersyahadat, mendeklarasikan diri sebagai muslim. Soal keluarga, blasteran Jepang-Inggris ini tidak ambil pusing. Sebab, dia berpikir bahwa, keluarganya akan senang jika dia senang.

“Dan mereka bisa melihat bahwa ini merupakan sesuatu yang sungguh positif,” ujarnya.

Namun, tanggapan beragam datang dari teman-temannya. Ada yang menyayangkan namun banyak pula yang memberi dukungan.

Masuk Islam, ada hal baru yang membuatnya bingung, yaitu soal busana. Dia sempat frustasi bagaimana harus berpakaian sebagai seorang Muslimah. Sebab, sebelum memeluk Islam, dia sudah terbiasa berbusana ala Barat.

Di tengah rasa frustasi itulah otaknya berputar. Jiwa kreatifnya muncul. Dia jadikan mode Barat itu sebagai inspirasi menciptakan busana hijab Muslimah. Sejak itulah dia mendirikan rumah modenya sendiri: Maysaa.

Kisah Hana ini bagaikan tamparan bagi Rina Nose, orang asing yang baru sehari dua hari lihat Jepang lalu terpesona, malah Islamnya yang ditinggal. Bagaikan air liur yang sudah diludahkan oleh Hana lalu dengan bangga ditelan oleh Rina.

Sumber : Tribun Islam /  Dakwah Media

Red : Wijati