BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Selasa , 16 Januari 2018

Benarkah Saudi Tawarkan Ibukota Palestina Pindah ke Abu Dis?

Oleh : Ismail Rajab

AntiLiberalNews – Lima hari belakangan, berbagai media termasuk dalam negeri Indonesia menyebut adanya “proposal Arab Saudi” yang diwakili pangeran Muhammad bin Salman. Proposal itu mengusulkan agar ibukota Palestina pindah dari Al-Quds/Yerusalem ke sebuah desa bernama Abu Dis.

Berita ini kemudian menjadi ramai setelah Trump mengumumkan pengakuannya terhadap Al-Quds/Yerusalem sebagai ibukota “Israel”. Dikatakan bahwa proposal Saudi itulah yang menjadi dasar Trump membuat kebijakannya.

Jadi, memang Saudi “biang kerok” di balik pemindahan Tel Aviv ke Al-Quds/Yerusalem.

Kalau kita sedikit rajin menelusuri informasi, maka akan didapati bahwa sumber informasi “proposal Saudi” tersebut adalah artikel The New York Times (NYT) yang berjudul ‘Talk of Peace Plan That Snubs Palestinians Roils Middle East’ dan ditulis oleh tiga kontributor.

Artikel dimulai dengan kalimat “In a mysterious trip last month, Mahmoud Abbas, the Palestinians President, traveled to Saudi Arabia’s capital…”

Mirip cerita fiksi.

Yang menjadi masalah dari artikel tersebut adalah bagian ini :

“According to Palestinian, Arab, and European officials who have heard Mr. Abbas conversation…”

Kata ketiga penulis tersebut, Pangeran Salman menawarkan Abu Dis kepada Mahmoud Abbas yang kemudian menolaknya.

Berita itu kemudian berkembang, dan memang sengaja diamplifikasi oleh jaringan Yahudi. Bahkan karena massifnya, banyak yang akhirnya memakannya mentah-mentah, tidak terkecuali media-media Muslim. Berita ini kemudian menjadi amunisi baru bagi pembenci Saudi, baik Syiah maupun “haroki berbulu pendengki”.

Clue: Baca Sumber Dengan Baik!

Banyak orang mengaku “haroki” (pejuang gerakan/Dakwah), tapi ketika berhadapan dengan info tentang Saudi, mereka lupa materi pelajaran ghazwul fikr (perang pemikiran). Dalam kasus ini terutama, bagaimana cara praktis memahami info di atas?

Panduannya jelas. Untuk newbie, minimal gunakan 2 cara:

1. Cari sumber pertama. Gunakan om gugel. Pakai filter berita, variasi keyword pencarian. Gunakan minimal bahasa Inggris dan Arab.

2. Gunakan gugel trends. Tools ini biasanya hanya dipakai untuk internet marketing, padahal berguna juga untuk banyak hal. Fungsinya sendiri mengetahui penggunaan sebuah kata di internet; mulai dari sejarah, hingga sebaran pengguna keyword tersebut.

Dari pengalaman saya, cara gampang mengetahui apa sebuah isu sengaja di blow-up atau tidak, adalah dengan melihat timing munculnya artikel pertama dan respon dari media “Israel”.

Biasanya setelah dimunculkan oleh “Israel”, barulah Iran juga mengamplifikasi. Sumber-sumber lain seperti Middle East Monitor (MEMO), Al Araby, dll hanya kopi paste. Mereka sendiri semuanya media yang berbasis di Inggris.

Kembali ke artikel NYT. Setelah menguraikan panjang lebar informasi “rahasia” hasil “dengar-dengar” alias gossip tersebut, barulah para penulis tadi menyebutkan bantahannya, yang berasal dari:

– Pangeran Khalid bin Salman yang waktu itu masih Dubes Saudi di Amerika

– Jubir Mahmoud Abbas

Semua mereka tegas menyatakan bahwa hal tersebut adalah fake-news.

Jadi masalahnya, kalau kedua pihak sudah membantah, mau dengar dari siapa lagi?

Problemnya, informasi seperti ini sudah ditelan mentah-mentah sebagian kaum Muslimin, hingga ada yang tega menulis dalam statusnya :

“Semoga dinasti saudi diazab”

NauduzbIllah min fitnatil jahla!

Red : Wijati