BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Selasa , 16 Januari 2018

Faktor Ini Dinilai Sebagai Penyebab Alotnya Pembahasan RUU “Terorisme”

AntiLiberalNews | Kiblat – Sejak 10 Januari 2017, pembahasan Rancangan Undang Undang (RUU) “Terorisme” telah dimulai oleh Pansus DPR. Namun, hingga akhir 2017 bahkan ketika sudah berganti tahun, pembahasan ini juga tak kunjung selesai.

Pengamat “terorisme” dari Indonesian Crime Analyst Forum (ICAF) Mustofa B. Nahrawardaya memiliki penilaian terhadap pembahasan RUU “Terorisme” yang berlarut-larut. Menurutnya, idealisme sebagian anggota dewan membuat proses pembahasan berjalan alot.

“Tidak semua anggota DPR itu inline atau sepakat dengan cara kerja DPR dalam mengerjakan RUU ini,” kata Musthofa di Jakarta sebagaimana dikutip Kiblat pada Senin (1/1).

“Bahkan dalam konsinyering-konsinyering untuk menyetujui UU ‘terorisme’ ini, masih ada beberapa anggota DPR yang masih memiliki idealisme yang masih lurus. Dan dia masih memiliki akal sehat sehingga dapat melihat bahwa undang-undang ini rawan untuk disalahgunakan,” ujarnya.

Menurutnya, RUU “Terorisme” yang baru rawan untuk disalahgunakan oleh aparat yang berada di lapangan, baik polisi maupun Densus 88. Potensi penyalahgunaan ada pada pasal-pasal di dalamnya, meski bunyi dalam pasal itu bagus.

“Misalkan masalah ‘masa penahanan yang diperpanjang’, ‘masa penyidikan yang diperpanjang’, ini berpotensi melanggar HAM,” ujar Mustofa.

Potensi pelanggaran itu tidak akan dipahami msayarakat jika tidak jeli membaca RUU itu. Mustofa menyebut bahwa ketika ada orang-orang yang fokus dan mempelajari UU “Terorisme” itu, maka akan memahami bahwa aturan baru itu rawan disalahgunakan oleh aparat.

“Oleh karena itu saya sangat memahami jika RUU ini akan berlarut-larut, dan kemudian kemungkinan semakin kedepan semakin banyak perlawanan dari masyarakat maupun dari ormas Islam, meskipun pemerintah bisa melakukan dengan oknum-oknum di DPR untuk segera menghasilkan RUU ini,” pungkasnya.

Red : Wijati